Kakek berusia 88 tahun Membawa Cucu Perempuan Tanggul Penderitaan Penyakit Langka
Kakek berusia 88 tahun Membawa Cucu Perempuan Tanggul Penderitaan Penyakit Langka

Kakek berusia 88 tahun Membawa Cucu Perempuan Tanggul Penderitaan Penyakit Langka

Kedua orang tuanya meninggal saat baru berumur beberapa bulan.
Seiring bertambahnya usia, peran dalam keluarga cenderung beralih. Bila orang tua dan kakek nenek sudah kelabu dan tua, anak-anak dan cucu harus menjadi orang-orang yang mengawasi, melindungi dan mendukung mereka. Sayangnya, ada orang yang tidak mampu melakukannya, mengingat status kesehatan dan keuangan mereka.

Gadis berusia 17 tahun ini menderita penyakit yang melemahkan sejak masih bayi, dan ayahnya ditinggalkan tanpa pilihan selain merawatnya.
Ternyata, Syifa menderita “Malabsorption Syndrome”, Malabsorpsi yang mengacu pada sejumlah kelainan di mana usus halus tidak bisa menyerap cukup nutrisi dan cairan tertentu.
Nutrisi ini bisa macronutrients (protein, karbohidrat, dan lemak), mikronutrien (vitamin dan mineral), atau keduanya. Karena Syifa ini secara harfiah adalah kulit dan tulang, dan tidak dapat melakukan apapun sendiri.

Namun berkat kakeknya yang berusia 88 tahun, Toton, dia telah bertahan lebih dari 17 tahun melalui perawatannya. Keduanya tinggal di rumah mereka di Pangandaran, Jawa Barat, tempat Toton mengabdikan seluruh hidupnya untuk merawat cucunya.
Rupanya, orang tua Syifa meninggal dunia saat usianya baru beberapa bulan. Ayahnya terlibat dalam sebuah kecelakaan saat ia berusia 5 bulan dan ibunya mengikuti 3 bulan kemudian, meninggalkan Syifa dengan kakeknya yang sudah tua.
Toton, yang bekerja di tentara sebelum pensiun, tidak menerima uang pensiun atau bantuan keuangan dari pemerintah.
Satu-satunya cara baginya untuk mencari nafkah adalah menanam sayuran dan menjualnya. Meski sudah tua, Toton melakukan segalanya untuk cucunya, meski itu berarti dia harus banyak berkorban